Art Edu Care #2: Let’s Care to Culture

Art Edu Care

11 – 15 Maret 2011

Membicarakan budaya sama artinya dengan membicarakan manusia, diri kita sendiri. Diri yang selalu berubah secara otomatis membuat pembicaraan tentang kebudayaan yang diciptakan manusia turut berubah, berkembang. Inilah kenapa pembahasan tentang kebudayaan selalu aktual, karena kebudayaan itu lebih merupakan kata kerja daripada kata benda, dan kata kerja tersebut dalam konteks ini (kebudayaan) merujuk pada proses yang tak berkesudahan.

Dalam kehidupan kita saat ini, tidak dapat kita pungkiri bahwa kita selalu hidup dalam tarik ulur kebudayaan, apalagi dalam wacana globalisasi yang mengakibatkan banyak perubahan dalam berbagai aspek kehidupan kita. Ada yang bersikap terbuka dalam perubahan ini dan berkata “ya” terhadap segala bentuk perubahan yang sedang berlangsung. Sikap ini dilandasi oleh pemikiran bahwa perubahan ini memang sesuatu yang sudah selayaknya terjadi, atau mungkin karena takut dianggap ketinggalan zaman atau kolot. Ada juga yang bersikap menolak, yang merupakan wujud resistensi terhadap kebudayaan “luar” yang masuk.

Pertanyaannya adalah sejauh mana kita mampu memadukan kedua kondisi ini? Bagaimana kita memahami kenyataan (tarik ulur kebudayaan) ini agar tidak terjadi distorsi kepribadian dan kebudayaan?

Pameran ini adalah upaya menggali kembali lokalitas dalam diri kita, sejauh yang kita pahami, seberapapun kadarnya. Bagaimana kita melihat, merespon, dan menafsir kebudayaan kontemporer saat ini, dengan berpijak pada kearifan lokal yang sebenarnya masih ada dalam diri dan lingkungan tempat kita berada. Ruang lingkup kebudayaan yang luas memungkinkan keleluasaan melempar pandangan ke segala penjuru untuk memotret berbagai fenomena budaya, khususnya tentang nasib lokalitas di tengah arus globalisasi.

Bagaimanapun, wajah kebudayaan kita saat ini tak lain adalah wajah kita sendiri yang perlu terus kita pertanyakan wujud dan rupanya

Art Edu Care #3

Events

Di tahun kedua penyelenggaraan Art Edu Care ini di awali pra- event pada tanggal 7 Maret 2011 dengan menggelar arak- arakan property berupa Canthing dan Senthir berukuran besar. Arak- arakan di sertai dengan Performance art ini diawali dari kampus Prodi Pendidikan Seni Rupa dengan tujuan akhir Taman Budaya Jawa Tengah sebagai tempat penyelenggaraan Art Edu Care #2 : Let’s Care to Culture.

Rombongan sempat berhenti di beberapa tempat untuk melakukan performanceart, diantaranya di Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Sastra dan Fakultas Pertanian. Iring- iringan yang sebagian besar membawa dan membunyikan kentongan ini menandai dan mensosialisasikan bahwa Art Edu Care tak lama lagi akan digelar.

Rombongan sampai di TBJT menjelang sore hari. Hari panas yang dilewati pun terbayar sejuk karena tepat setelah rombongan tiba di TBJT hujan mengguyur Solo dengan derasnya.

Musim hujan yang sedang “lucu- lucunya” juga terasa ketika malam pembukaan acara pada malam hari tanggal 11 Maret 2011. Hujan yang sedari sore mengguyur belum juga reda menjelang acara dimulai. Dalam kondisi demikian seluruh panitia dan peserta kegiatan antusias menghadiri acara pembukaan. Tenda yang terpasang pun tak cukup menampung penonton. Sebagian besar duduk di Pendopo TBJT menghadap ke Panggung Acara yang terletak diantara dua Galeri Seni Rupa.

Sejatinya, tidak terlalu banyak perbedaan dalam konsep maupun pelaksanaan pameran di tahun 2011 ini kecuali di terapkannya system kurasi dalam pameran. Pengerucutan tema yang eksplisit dalam sub- tema “Let’s Care to Culture” memberi batasan-batasan dalam subject matter karya yang akan di pamerkan. Batasan ini sebenarnya masih cukup longgar, bahkan terlalu longgar seperti yang sempat di tuliskan Hardiman dalam majalah Visual Art setelah acara berlangsung.

Kurasi dan seleksi karya yang di perketat adalah upaya dalam menyajikan karya-karya terbaik dari seluruh peserta yang berpartisipasi dalam kegiatan ini. Belajar dari pengalaman pameran sebelumnnya yang tanpa tema khusus, penyelenggara berpikir mencoba kemungkinan untuk menggelar pameran dengan tema dan kuratorial yang jelas.

Dalam rangkaian Art Edu Care #2 : Let’s Care to Culture, seminar diselenggarakan sebagai wadah pembahasan subtansi kegiatan dalam kerangka akademis. Selaras dengan sub tema kegiatan kali ini maka seminar yang di selenggarakan pada tanggal 12 Maret 2011 ini bertemakan “Peran Pendidikan Seni Rupa dalam Pelestarian Budaya Lokal”.

Tema yang di usung oleh penyelenggara dirasa penting untuk di perbincangkan bersama. Dalam era global ini masyarakat berada dalam situasi tarik- ulur dalam soal- soal kebudayaan, diantara soal- soal kebudayaan tersebut terdapat kesenian yang juga mendarah daging dalam diri masyarakatnya. Jika di pandang dari segi tanggung jawab, maka lembaga pendidikan seni memiliki kewajiban dan tanggungjawab dalam upaya melestarikan nilai- nilai budaya yang terkandung dalam kesenian.

Pelestarian budaya merupakan upaya yang dapat dicapai dengan berbagai cara pendidikan dalam proses transformasi kebudayaan menjadi bagian vital dalam upaya pelestarian tersebut. Adapun pembicara yang di hadirkan dalam seminar ini adalah Ahmad Sopandi Hasan, M. Ed (Art ), Ph. D, Drs. Hardiman, M.Si, Adam Wahida S. Pd, M. Sn, serta Fajar Sutardi, S,Pd.

Berangkat dari fenomena berkurangnya minat generasi muda terhadap kesenian wayang, maka dalam kegiatan Art Edu Care #2 : Let’s Care to Culture, penyelenggara mengadakan kegiatan workshop wayang kontemporer. Wayang, merupakan kesenian yang memiliki akar yang kuat terutama dalam budaya Jawa. Untuk dapat mempertahankan keberadaan wayang tentu melewati penyesuaian- penyesuaian agar selalu dapat di terima masyarakatnya. Dalam workshop ini penyelenggara menghadirkan Ki Jlintheng Suparman yang merupakan penggagas dan dalang Wayang Kampung Sebelah. Wayang Kampung Sebelah sendiri adalah salah satu contoh bentuk penyesuaian pertunjukan wayang yang di olah secara kreatiif dan segar.

Workshop yang dilaksanakan di Galeri Seni Rupa TBJT ini di ikuti oleh seluruh delegasi. Workshop berisi pengenalan terhadap wayang, juga teknik pembuatan wayang. Workshop tersebut di harapkan memberi kesadaran bahwa wayang sebagai salah satu bagian dari peninggalan tradisi yang dapat di e k s p l o r a s i l e b i h j a u h d e n g a n membebaskan ide- ide, sekaligus dengan mencoba berbagi.

Kota solo menyimpan beragam kekayaan budaya yang berharga. Sebagai salah satu pusat kebudayaan Jawa dengan Keratonnya yang telah berusia tua, Solo merupakan kota yang menarik untuk di kunjungi dan dirasakan nuansanya. Meski tak sepopuler Yogyakarta, menikmati suasana di Solo membawa kembali kepada nostalgia masa lalu tentang sebuah tempat dengan masyarakat yang hidup di dalamnya. Tentang suatu perjalanan sejarah.

Kegiatan Solo Artventure ini selain sebagai sebuah kegiatan relaksasi bagi seluruh peserta juga untuk kembali merasakan nuansa masa lalu yang menyejarah itu. Selain mengunjungi Keraton Kasunanan, peserta juga mengunjungi Pura Mangkunegaran dan pasar Klewer. Seluruh peserta antusias dalam kegiatan ini, terutama peserta dari luar Solo yang ingin menikmati suasana Solo sambil mengamati beragam

Pagi hari, di sepanjang tepian jalan masuk utama UNS ramai oleh sekumpulan mahasiswa. Belasan triplek yang terpasang pada kerangka sketsel berjajar. Hari itu seluruh peserta dari berbagai universitas tersebut akan membuat mural dengan tema Looking for Heroes. Mengacu pada tema kegiatan tentang budaya lokal, dalam kegiatan ini peserta akan membuat mural dengan mengambil tokoh- tokoh lokal yang ada di daerah masing- masing.

Mural kali ini mencoba untuk menggali kembali sosok-sosok “Hero” dalam budaya lokal. “Hero”, merupakan sumber spirit dan inspirasi bagi generasi muda yang sedang belajar dan berproses mengenali diri dan potensinya sendiri. Mural kali ini menampilkan beragam karya yang unik dan menarik sebagai hasil dari sebuah pembacaan terhadap “hero” dalam relung budaya lokal.

Dokumentasi