Art Edu Care #5: Local Movement

15 – 20 Maret 2014
Dalam konteks percaturan budaya global, kesadaran untuk mempertanyakan identitas tampak semakin besar. Hal ini merupakan paradoks yang mengiringi wacana baru, yaitu wacana tentang identitas budaya yang dibangun melalui persinggungan dan ketegangan dalam menentukan pilihan komunitas. Di satu sisi ingin masuk dalam peta global yang menghilangkan sekat wilayah, etnis, dan bangsa namun disisi lain muncul spirit untuk kembali pada etnisitas dan lokalitas.
Memang sebenarnya kita masih mempunyai sejumlah persoalan tentang kebudayaan. Seperti sering kita terjebak pada persoalan menyangkut budaya tradisi dan modern. Tradisi dan modern menjadi dua kutub yang tarik-menarik. Disatu sisi mempersoalkan nilai-nilai, disisi lain mempersoalkan efektivitas dan efisiensi. Atas nama efektivitas dan efisiensi kita sering terpaksa menggusur tradisi, meski setelah itu muncul problem baru dengan arah dan pijakan yang tidak jelas. Dalam posisi ini kita seharusnya memiliki kontrol yang baik disaat menentukan arah, sebab sasaran didepan terkadang masih kabur, hanya impian dan angan-angan yang belum jelas bentuknya. Sementara itu budaya tradisi/lokal sudah terbukti memberikan nilai kearifan lokal yang dapat dijadikan dasar pijakan.
Membincangkan nilai-nilai bukan hanya sesuatu yang langsung berhubungan dengan kepentingan praktis saja. Seperti ketika kita mencermati nilai-nilai dalam seni tradisi/lokal, akan tampak adanya semangat komunalitas, partisipasi dan dedikasi. Komunalitas disini menyangkut dengan kelompok orang yang hidup bersama dengan memiliki kecenderungan pemilikan dan pemakaian hak secara kolektif dan semangat kebersamaan menjadi perekat anggota komunitas. Oleh karena itu keberlangsungan seni tradisi/lokal ini tergantung pada kesetiaan pendukungnya. Partisipasi yang sangat tinggi dari anggota kelompok atau masyarakat pendukungnya merupakan watak khas seni tradisi/lokal, dan inilah sebuah dedikasi. Berbagai aspirasi dan inspirasi digunakan untuk kepentingan bersama, atau berasal dari kelompok untuk kepentingan kelompok. Semangat solidaritas dan demokratis tercermin dari setiap keputusan yang diambil untuk kepentingan kelompok. Mereka memiliki sistem kerja dan aturan main yang dibuat oleh kelompok. Seni tradisi/lokal memberikan contoh nilai-nilai spiritual, etika, moralitas, demokrasi, hak asasi manusia, keadilan dibangun dan dipraktikkan bersama.
Menengok kembali nilai-nilai yang kaya dengan semangat komunalitas, partisipasi dan dedikasi, kita dapat menjadikannya sebagai inspirasi untuk menentukan identitas dan menciptakan strategi kesenian yang baru. Oleh karena itu, melalui kegiatan Art Edu care #5: Local Movement ini kami mengajak mahasiswa dan dosen dari berbagai universitas untuk menggali budaya lokal di wilayah masing-masing sebagai ide penciptaan seni, baik secara personal maupun kolaborasi bersama komunitas/masyarakat.Pameran Art Edu care #5: Local Movement kali ini akan menyajikan karya-karya seni personal dan karya-karya seni kolaborasi. Karya seni personal dihasilkan oleh seniman secara individu, sedangkan karya seni kolaborasi dihasilkan melalui Art Projecty yang dilakukan bersama komunitas/masyarakat.

Events

Pameran dalam Art Edu Care #5: Local Movement kali ini seperti yang tergambar dalam kuratorial tidak hanya menampilkan karya-karya individu, melainkan juga karya-karya kolaborasi dalam Art Project. Format ini merupakan suatu bentuk pencarian, adaptasi, dalam rangka menemukan model yang tepat dalam mengimplementasikan gagasan dasar Art Edu Care itu sendiri sebagai sebuah kegiatan kesenirupaan yang berupaya membawa nafas kesenian ke berbagai kalangan. Hal itu ingin dicapai melalui kerja sama dengan institusi pendidikan formal (sekolah) maupun dengan masyarakat umum.

Mengiringi keseluruhan rangkaian kegiatan, tahun ini digelar seminar Internasional Pendidikan Seni Rupa dengan tema “Internasional Nilai-nilai Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Seni”. Dilangsungkan di Gedung F FKIP UNS, pembicara yang dihadirkan tahun ini adlah; Prof. M. Dwi Marianto M.FA, PhD, (Indonesia) , Dr. Rosli Zakaria , M.A. (UiTm Malaysia), Dr. Slamet Supriyadi, M.Pd. (Indonesia), Dougls Obura, M.Si (Uganda), Kawasaki Naomi, M.Hum.

Fashion Show art Edu Fashion yang digelar tahun ini dilaksanakan pada tanggal 7 Maret 2014 di halaman utama gedung Rektorat Uns. Pagelaran ini dapat dikatakan sebagai apresiasi Universitas terhadap acara Art Edu Care yang menangui Art Edu Fashion. Puluhan karya kostum yang dibuat dari berbagai paduan material baik baru maupun bekas menjadi sarana menumbuhkan dan menunjukkan kreativitas mahasiswa Prodi Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS yang juga turut menggandeng beberapa siswa SMA di kota Solo, kalangan warga masyarakat umum dan juga beberapa komunitas fashion yang ada di kota Solo. Kegiatan Art Edu Fashion merupakan sub-kegiatan yang paling menarik perhatian umum, karena art edu fashion merupakan kegiatan yang bergerak pada pembuatan Fashion

Seperti yang telah dirintis pada tahun sebelumnya pada Art Edu Care #4, dalam Art Edu Care #5: Lokal Movement juga dilakukan kegiatan bedah kampung. Tahun ini bedah kampung bertempat di RW 22 Kelurahan Tegalrejo, Kecamatan Jebres. Kegiatan ini terutama berfokus pada pengerjaan mural di sepanjang tembok yang berada di sisi jalan menuju stasiun kereta api Jebres.

Sebelumnya, pada tanggal 23 Februari 2014 juga diadakan lomba melukis tong sampah. Diikuti oleh SMA 3 Boyolali (2 tim), SMA 5 Surakarta (1 tim), SMA 1 Karanganyar (1 tim) , SMKN 9 Surakarta (2 Tim). Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka Art Project yang telah digagas dalam Art Edu Care #5 yang melibatkan para pelajar dalam rangkaian kegiatan dan juga mencoba mengenalkan seni rupa kepada masyarakat umum.




















