Art Edu Care #6: Art in Between

16 – 20 Maret 2015
Jika melihat pada praktiknya, seni partisipatori sudah hadir dalam kehidupan masyarakat tradisi. Kita dapat melihat bagaimana seni tradisi melibatkan banyak elemen dari seniman, pendukung artistik, hingga audien yang melihat. Ada struktur pembagian kerja yang jelas di dalamnya. Dalam seni kontemporer, praktik seni partisipatori mulai mendapat perhatian dalam praksis maupun pewacanaan. Kehadiran seni partisipatif di kancah seni rupa modern Barat, awalnya merupakan satu bentuk penentangan atas elitisme seni yang muncul, ketika wacana seni hanya didominasi segelintir kepentingan (seniman-galeri) sementara masyarakat hanya menjadi konsumen. Seni partisipatori muncul sebagai alternatif yang memberikan kemungkinan bagi masyarakat awam untuk menjadi bagian dari penciptaan karya. Gagasan untuk melihat dan merumuskan kembali pertanyaan tentang fungsi seni bagi masyarakat menjadi salah satu landasan maraknya praktik seni ini dilakukan.
Seni partisipatori sering disebut dengan seni interaktif, melibatkan penonton untuk menjadi bagian dari proses artistik dengan berbagai cara. Melibatkan penonton meramu apa yang dilontarkan oleh artis, secara parsial, atau bahkan menjadi bagian dari kerja artistik keseluruhan. Praktik seni ini memiliki banyak kecenderungan gaya dan pola dalam penciptaan karya, karena banyaknya orang dan atau komunitas yang dilibatkan. Sehingga dapat dikatakan bahwa praktik seni ini sekaligus menjadi praktik seni yang multifaceted dan interdisipliner. Eksplorasi kreativitas dari masing-masing individu yang terlibat di dalamnya tak ayal menjadi penting dalam penciptaan karya. Sebagai konsekuensi dari sifat multifaceted tersebut, banyak perdebatan yang mengemuka sehubungan dengan praktik seni ini. Satu di antaranya yakni menyangkut definisi mengenai perbedaan seni partisipasi dengan seni komunitas (community arts), seni kolaborasi (collaborative art), dan seni yang terlibat secara social (socially engaged art).
Seni komunitas adalah satu bentuk dari praktik seni partisipatoris yang menekankan potensi seni untuk melakukan perubahan sosial. Sering kali hadir dalam bentuk kolaborasi antara seniman dan komunitas tertentu, atau dilakukan oleh masyarakat di mana seluruh anggotanya terlibat dalam proses pembuatan karya seni. Seni Kolaborasi adalah satu bentuk praktik seni di mana dua atau lebih seniman, dari berbagai disiplin ilmu yang berbeda melakukan kolaborasi untuk menciptakan seni secara bersama-sama. Seni yang terlibat secara sosial (Social Engaged Art) adalah praktik seni yang dilakukan dengan agenda sosial tertentu di mana penciptaan dan perwujudannya melalui keterlibatan, kolaborasi dan partisipasi antar seniman, atau seniman dengan kelompok social yang spesifik seperti komunitas anak muda. Meski terlihat berbeda, namun pada dasarnya, keempat hal tersebut di atas memiliki irisan yang sama, yakni pada kerja kolektif dan keterlibatan publik di dalamnya.
Art Edu Care #6 merupakan salah satu event tahunan yang diselenggarakan oleh Program Studi Seni Rupa FKIP UNS Surakarta, yang digagas untuk melihat sejauh mana dunia pendidikan seni rupa mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan seni dalam scope pendidikan sekolah secara khusus, dan berkontribusi dalam melihat perkembangan praktik seni rupa global dalam konteks pendidikan. Memilih tajuk Art In Between, perhelatan kali ini berupaya untuk menghadirkan beragam karya dari project seni yang telah dilakukan oleh para seniman dengan komunitas masyarakat. Tujuannya untuk melihat sejauh mana seni bekerja di ruang publik dan berkontribusi secara langsung di dalamnya. Dengan menghadirkan karya-karya seni berbasis project berikut dengan dokumentasi proses kerjanya, diharapkan dapat dilihat beragam metode, strategi, model kerja penciptaan seni yang dilakukan oleh para seniman, sekaligus bagaimana proses edukasi yang dilakukan.
Melalui pameran ini diharapkan dapat dilihat bagaimana ‘jarak’ sekaligus ‘keterikatan’ antara seni dengan masyarakat, di mana kerja-kerja seniman menjadi penghubungnya. Art In Between berpijak dari kecenderungan yang muncul dari model praktik seni partisipatori decade akhir 2000an yang mulai merumuskan diri pada Paedagogic Art (seni sebagai praktik edukasi kepada publik) dan Delegated Performances (melibatkan publik sebagai media/bagian dari karya). Dengan tajuk ini juga diharapkan dapat memunculkan pengertian dan pemahaman tentang seni yang lebih bermakna bagi masyarakat, dan melihat kembali urgensi pendidikan seni di tengah arus dominasi pasar dan budaya masyarakat kapital.
Teaser Animation
Art Edu Care #6
Song by Keseso
Animated by Andalas
Program Studi Pendidikan Seni Rupa UNS

Events

Pemberdayaan terhadap media di masyarakat terlihat masih kurang begitu dipedulikan, sehingga bagaimana cara kita untuk melestarikan kembali agar becak dapat dipandang lebih menarik di mata masyarakat. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 Februari 2015 yang bertujuan Mengenalkan kepada masyarakat bahwa berkeseni-rupa-an dapat diaplikasikan ke dalam media apa pun, salah satunya adalah mural di becak. Serta, Agar becak menjadi daya tarik di lingkungan masyarakat sehingga kita sadar bahwa becak adalah alat transportasi tradisional yang tetap perlu dijaga dan dilestarikan. Sebagai salah satu gagasan yang dilakukan agar pelaku subyek becak dapat berlaku kreatif untuk mendapatkan pusat perhatian dari masyarakat sehingga becak tetap menjadi pemandangan yang eksotis di dalam tata kota khususnya di Solo.


Panitia AEC sendiri mengadakan workshop seni ke beberapa tempat dimulai pada tanggal 11 Januari 2015. Di antaranya di SD Ngoresan dengan materi tie dye (ikat celup), di SLB YPAC colomadu dengan materi finger painting, di TPA dengan materi tirai flannel, panti asuhan dengan tema art edu fashion, dan kepada anak-anak jalanan salatiga brother street dengan materi cetak grafis. Karya workshop tersebut di pamerkan di FESTIVAL kirab bocah (carfreeday) dan Event pameran AEC#6 “Art In Between” (galeri Seni Rupa Taman Budaya Jawa Tengah).


(Minggu, 8 Maret 2015) Rangkaian Pra-Event dari Art Educare #6 yang dilakukan di CFD Solo dengan Pawai akbar Kirab Bocah di sepanjang jalan Slamet Riyadi dengan dua kubu yang nantinya akan bertemu di satu sisi yang menjadi Pusat di depan Taman Sriwedari dalam bentuk street performance yang diadakan pada pagi hari. Diisi dengan perpaduan budaya menjadi seorang Tokoh yang diinginkan sesuai dengan gambaran ekspresi diri dan dengan diiringi becak yang telah di respons dengan sentuhan mural bocah atau anak-anak ikut serta dalam pawai Kirab bocah tersebut sesuai dengan visi dalam pemberdayaan anak tentang pendidikan Kesenirupaan, yang nantinya akan mengenakan kostum Art Edu Fashion yang telah dikemas dari kelompok sekolah luar biasa, regional, maupun sekolah formal yang dirancang secara profesional sesuai workshop yang diadakan pada hari hari sebelumnya dengan mengambil lokasi di Jalan Slamet Riyadi sebagai landmark Kota Solo. Dikemas secara kolosal. Dimeriahkan dengan pawai dan Kirab Bocah di sepanjang jalan.



Pada pembukaan Art Edu Care #6 pada hari Senin, 16 Maret 2015, Pameran dibuka oleh Rektor Universitas Sebelas Maret diiringi performing Art oleh Peron UNS dan Mahasiswa Pendidikan Seni Rupa itu sendiri. Selain performing Art, pada pembukaan ini juga dihibur beberapa artis hiburan band dari kota Solo sendiri. suasana sangat ramai, selain audiens dari kota Solo sendiri, banyak juga dari mereka hadir dari luar kota.

Pada hari Selasa, 17 Maret 2015, di tempat perhelatan ARTEDUCARE #6 juga diadakan Workshop Komunitas. Komunitas tersebut datang dari berbagai kota, dari Solo sendiri ada Tugitu Unite, Dari Surabaya sendiri ada Sebuk Kayu, dan komunitas lainya. ‘Selesai Workshop oleh beberapa komunitas, Pada Hari itu juga diadakan diskusi tentang Biennale jogja di dalam Pendopo taman Budaya Jawa Tengah.
Lanjut, pada malam harinya juga diadakan Performance Art oleh beberapa artist dari UNS sendiri maupun Delegasi yang bersedia untuk perform. Selain dari UNS dan Teman-teman Delegasi, pada akhir Performance Art tersebut juga dibuka mimbar bebas untuk siapa saja yang ingin Performance Untuk mengkritik ARTEDUCARE itu sendiri.




Pada hari ketiga Art Edu Care #6 juga mengadakan Lomba Menggambar dan Mewarnai Anak di pendopo Taman Budaya Jawa Tengah yang diikuti oleh anak-anak jenjang pendidikan TK hingga SD. Anak-anak sangat menikmati dalam mereka menggambar dan mewarnai, disamping itu juga MC yang juga menghibur mereka. Sembari lomba Menggambar dan Mewarnai diadakan, ada juga lukis tenda angkringan yang diadakan untuk saling mengakrabkan untuk berkumpul dan berkarya bersama oleh kami Panitia dan delegasi-delegasi yang datang dari berbagai Universitas. Hasil lukisan tenda angkringn tersebut yang nantinya di pasang di angkringan pemilik tenda tersebut yang sudah didata sebelumnya.

Pada hari ke Empat, diadakan ‘’Art Edu Cord’’ yaitu acara hiburan dalam bentuk musik. Acara tersebut diadakan dengan tujuan menghibur audiens dalam mereka mengapresiasi karya-karya Art Edu Care #6 sembari menikmati, mempelajari, dan mengartikan karya-karya yang dihadirkan pada pameran tersebut. Artis yang dihadirkan sendiri mayoritas berasal dari kota Solo sendiri dan tidak ketinggalan juga mahasiswa Universitas Sebelas Maret.

Berita
SemarTV – JALADARA : Art Edu Care #6 Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS
ART EDU FASHION ARTEDUCARE 6
Pameran Art Edu Care #6 Pendidikan Seni Rupa UNS



















































