Art Edu Care #7: Art Effect

18 – 23 Maret 2016
Di era kontemporer, praktik seni partisipatori mulai mendapat perhatian dalam praksis maupun pewacanaan. Kehadiran seni partisipatori muncul ketika wacana seni rupa hanya didominasi oleh segelintir kepentingan (seniman-galeri) sementara masyarakat hanya menjadi penikmat/konsumen. Kondisi tersebut membuat seni rupa menjadi “terisolir” dan konteks sosial karena praktiknya cenderung konvensional dan berjarak dari disiplin ilmu lainnya. Praktik seni rupa hanya mengambil simpul –simpul isu dan direpresentasikan dalam wujud karya, bukan dalam aktivitas yang lebih nyata.
Seni partisipatori sebagai kreativitas sosial bukanlah aktivitas manipulatif untuk sekadar mencapai tujuan tertentu. Lebih dari itu, komunikasi yang muncul ketika aktivitas seni mampu mengarahkan pada pemahaman individu yang terlibat memahami konteks sosial budayanya, akan memunculkan sikap sikap emansipatoris. Dengan demikian, seniman mampu menghasilkan seni kolektif yang berdampak pada wilayah publik secara mendalam dan bermakna, bukan menciptakan representasi dari masalah sosial semata. Seni partisipatori menjadi alternatif yang memberikan kemungkinan bagi masyarakat awam terlibat dalam penciptaan karya seni. Prosesnya dengan meramu hal-hal yang dilontarkan oleh seniman secara sebagian atau bahkan menjadi bagian dari kerja artistik keseluruhan. Pada akhirnya, kerja partisipatori menjadi ruang refleksi atas status “pencipta” dalam diri seniman, menantang gagasan atonomi estetika dan proses interaksi yang terjadi antara seniman-karya-audien.
Kerja seni partisipatori memungkinkan setiap individu yang terlibat melakukan eksplorasi hal-hal yang menarik dan berarti bagi kehidupannya, merenungkan setiap potensi diri yang dimiliki, serta mengomunikasikannya kepada orang lain. Melalui aktivitas seni ini seniman dan partisipan akan mampu memproduksi makna secara bersama-sama. Proses kreatif yang dijalankan berupaya untuk menggugah kesadaran setiap individu yang terlibat, dalam memaknai suatu hal yang berarti bagi kehidupannya. Oleh karena itu, aktivitas yang dilakukan harus mengedepankan cara cara kreatif dan non-linear, untuk mengeksplorasi potensi yang selama ini kadang terabaikan.
Melalui aktivitas tersebut bisa dilihat sejauh mana partisipan mampu menemukan jawaban atau persoalannya, yang akan ditunjukkan dalam sikap, penggunaan bahasa, dan simbol visual pada karya seni yang diciptakan. Dengan demikian, seni partisipatori tidak hanya mementingkan produk tetapi juga “jejak-jejak” yang ditinggalkan oleh aktivitas seni itu sendiri.
Animasi Teaser Art Edu Care #7
Art Effect

Events

Pada Tanggal 25 Januari 2016, salah satu program Pra Event Art Edu Care #7 telah mulai dilaksanakan yaitu workshop STENSIL di salah satu TK Pertiwi 1 Ngringo. STENSIL sendiri merupakan teknik seni yang menggunakan cetakan sebagai alat utamanya. Seni STENSIL termasuk salah satu cabang dari seni rupa. Pada awal perkembangannya teknik STENSIL digunakan untuk keperluan sablon, tanda instansi ataupun plat kendaraan. Workshop itu sendiri ditujukan kepada siswa-siswi TK tersebut sebagai upaya pembelajaran dalam bidang seni rupa itu sendiri. Workshop itu sendiri diharapkan menjadi daya dorong mereka untuk meningkatkan kemampuan kreativitas mereka.


Pada tanggal 26 Januari 2016, salah satu program pra event ARTEDUCARE #7 mengadakan workshop di SD Bulukantil; Ngoresan, Surakarta. Pada workshop tersebut, kami memberikan materi berupa ‘ebru’. ebru sendiri merupakan kesenian khas dari Turki. Dalam bahasa Turki, ‘Ebru’ berarti ‘Awan’ atau ‘Berawan’. Tetapi ternyata kesenian tersebut bukan berasal dari Turki, tetapi dari peradaban China kuno. Sebuah tulisan tentang seni lukis ‘awan’ dari jaman dinasti Tang (618-907) menyebutkan tentang proses mewarnai kertas menggunakan media air dengan lima warna. Kuat dugaan inilah cikal bakal seni lukis ‘awan’ yang kemudian menyebar hingga ke Iran.
‘Ebru’ di Iran digunakan untuk mewarnai sampul naskah maupun kitab. Seni Ebru kemudian menjalar hinga ke Anatolia, dan Turki bagian Asia. ‘Ebru’ juga sempat berkembang menjadi seni ‘Kaligrafi’. Sejak pertengahan abad ke-15 Ebru dikenal sebagai seni Turki, yaitu membuat corak pada kertas dengan media air. Pada masa itu, teknik Ebru adalah mencipratkan cat yang mengandung empedu sapi ke permukaan air yang sudah dicampur “kitre” (getah tragacanth). Kemudian corak yang telah terbentuk ‘diambil’ dengan menggunakan kertas yang diletakkan ke permukaan cairan sehingga corak warna di permukaan cairan tadi menempel ke kertas.


Pada tanggal 27 Januari 2016, salah satu bagian dari program pra event Art Edu Care #7 mengadakan kegiatan workshop yang dilakukan di SLBA YKAB Surakarta. Workshop tersebut menjadi salah satu kegiatan yang juga mengajak mereka untuk berbaur dengan orang-orang sekitar dan tentunya masyarakat luas. Teknik ikat celup (tie-dye) menjadi materi kami dalam memberikan mereka pendidikan seni rupa. Ikat celup sendiri merupakan teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan berbagai cara tertentu sebelum dilakukan pencelupan. Workshop tersebut juga diharapkan menjadi kegiatan yang dapat mendorong tingkat kreativitas si Anak.


Pada tanggal 28 Januari 2016 dan 1 Februari 2016, Pra Event Art Edu Care #7 kembali dilaksanakan di sebuah Panti Asuhan Misi Nusantara, Surakarta. Kegiatan itu menjadi salah satu yang juga menjadi bagian dari rangkaian Pameran Internasional Art Edu Care #7 yang nantinya akan digelar pada tanggal 18 Maret 2016 di Taman Budaya Jawa Tengah.
Workshop ‘Lukis celengan’ menjadi materi yang kami berikan. Antusias anak-anak Panti Asuhan dalam menyambut kami cukup baik, dilihat dari gelora dan semangat untuk berkarya dari raut wajah mereka. Selain menjadi kegiatan yang sangat mendorong kemampuan berkreativitas mereka, dalam kegiatan tersebut juga menjadi representasi dari gaya hidup masyarakat yang boros. melalui kegiatan tersebut kami mengajak anak-anak Panti Asuhan tersebut untuk mengajak mereka membuat sebuah celengan yang beresensi mengajak mereka menabung dan menghemat uang. Selain itu, kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari tujuan kami untuk mengajak institusi lain, maupun kelompok masyarakat lain untuk berkarya, berbagi bersama untuk sebuah perkembangan Seni Rupa di Indonesia.


Pada tanggal 31 Januari 2016, Pra Event ARTEDUCARE #7 juga dilaksanakan di Kampung Ngoresan RT4/1 Jebres, Surakarta. Workshop tersebut dilaksanakan dengan Ibu-ibu PKK kampung tersebut.Antusias Ibu-Ibu kampung tersebut juga cukup baik, tak segan dari mereka untuk mengeluarkan kemampuan dan ide-ide kreatifitas mereka.
Workshop ‘Makrame’ menjadi materi yang diberikan kepada mereka. Makrame sendiri merupakan seni kerajinan yang memanfaatkan tali dan benang untuk menciptakan aneka ragam aksesoris dan produk. Seni ini juga merupakan salah satu contoh seni rupa terapan. Awalnya kerajinan ini bermula dari teknik tali temali yang berhubungan dengan ikat dan simpul menyimpul yang kebanyakan dikerjakan oleh para pelaut di waktu senggang. Mereka mencoba membuat berbagai aksesoris dan berbagai barang yang memanfaatkan tali di sekitar mereka. Selain itu mereka juga ada yang serius memanfaatkan makrame bukan hanya pekerjaan yang dilakukan untuk mengisi waktu luang saja. Kegiatan itu selain menjadi salah satu rangkaian ARTEDUCARE #7, kegiatan tersebut juga diharapkan menjadi salah satu kegiatan yang nantinya akan berdampak positif terhadap Ibu-Ibu dalam berkreativitas dan menjadi pengalaman yang berharga.


Pada tanggal 9 dan 10 Februari 2016 Art Edu Care #7 kembali melanjutkan rangkaian pra event pada Kelompok Tani yang berada di Jl. Lati No. 1 Desa Palur. Pada Workshop tersebut kami menjadikan Orang-orangan Sawah sebagai materi yang kami berikan. Menurut Wikipedia, Orang-orangan sawah adalah replika manusia yang ditempatkan di atas tanah yang tengah dibudidayakan (sawah, kebun, ladang, dll) yang dimaksudkan untuk menakut-nakuti burung atau binatang lainnya (hama sawah) agar tidak mematuk atau merusak biji, tunas, serta buah-buahan yang tengah tumbuh di areal itu. Selain berwujud manusia (sesosok petani), varian lain dari orang-orangan sawah adalah patung hewan predator hama sawah seperti burung hantu atau tikus. Orang-orangan sawah merupakan produk universal petani-petani di seluruh dunia karena hampir seluruh peradaban di dunia yang bercocok tanam menggunakan orang-orangan sawah meskipun dengan spesifikasi yang berbeda-beda sesuai dengan lokal wilayah masing-masing.
Workshop tersebut menjadi salah satu kegiatan kreatif yang mengajak masyarakat sendiri untuk berkarya kreatif mengenai Seni Rupa. Sambutan dari mereka pun sangat antusias, dilihat dari semangat dan kegembiraan mereka. Tidak lain lagi sebagai representasi dari sebuah tujuan dan fungsional Seni Rupa dalam konteks pertanian.


Salah satu program PARALEL EVENT ARTEDUCARE #7, yaitu melukis pada sebuah gerobak angkringan maupun gerobak jajanan yang menyediakan makanan yang biasanya berjualan di pinggir-pinggir jalan menjadi sasaran ARTEDUCARE #7 untuk menjadi bagian penting dalam program ARTEDUCARE #7 kali ini. pada Paralel Event tersebut teman-teman panitia ARTEDUCARE #7 mencoba untuk mengeluarkan kreativitasnya dalam melukis untuk dituangkan pada sebuah gerobak. Selain tentunya menjadi sesuatu yang berbeda dari pada umumnya, hal tersebut juga mencoba mengubah warna-warni gerobak yang biasanya hanya berwarna polos dan terdapat tulisan makanan yang tertera, ARTEDUCARE #7 mencoba untuk memberikan sentuhan berbeda dengan memberikan beragam lukisan yang tentunya disesuaikan dengan makanan yang jual.
Pada nantinya, diharapkan dengan kegiatan tersebut, Masyarakat umum dapat mengenal fungsi dari Seni Rupa yang sebenarnya dekat dengan mereka. Selain mengenalkan masyarakat umum terhadap sebuah daya esensi kesenirupaan, kegiatan tersebut menjadi salah satu propaganda dari ARTEDUCARE #7 itu sendiri.


Melihat perkembangan Seni Rupa yang tumbuh di Indonesia, sudah semestinya sebuah project seni mengajak individu lain, organisasi, ataupun instansi lain untuk bekerja sama. Tidak lain sebagai tujuan untuk mendekatkan Seni itu sendiri kepada masyarakat lebih luas. Rumah baca teratai merupakan sebuah lembaga yang mencoba mengajak masyarakat untuk mengajak masyarakat untuk mencoba membudayakan kebiasaan membaca, sebagai tonggak perubahan gaya hidup yang lebih baik. Pra Event Art Edu Care #7 mencoba mengajak Rumah Baca Teratai untuk terlibat bersama dalam project seni ini. Adapun project tersebut yaitu membuat sebuah project Mural, Pendonasian Buku, Diskusi seni tentang ‘ Kreativitas Laju Kualitas’, dan juga sebuah hiburan pertunjukan seni.
Pada Project mural, muncul sebuah tema ‘’Ayo Berani Berubah’’. Tajuk tersebut muncul seiring semakin tidak berfungsinya secara baik ketika gaya hidup yang muncul di masyarakat terlahir karena trend lingungan maupun asumsi yang diberikan oleh banyak media massa. Sementara pada posisi tersebut manusia memilih untuk mengikuti alur tersebut, padahal tujuan dari seorang yang mempengaruhinya tidak selalu esensial lagi pada dampaknya. Selain menimbulkan gaya hidup yang mainstream, peradaban tersebut tidak lain menimbulkan sebuah pola hidup yang relevan dari setiap tahunnya dan tidak lagi berkembang. Sesuatu yang fungsional, ketika keinginan untuk mengubah gaya hidup masyarakat itu muncul dan mencoba membuat sesuatu yang berbeda dari pada umumnya. Pada hal tersebut, terkadang beberapa orang merasa takut dan tidak berani untuk melakukannya. Rumah Baca Teratai menjadi sebuah lembaga yang cukup berani dalam melakukan hal tersebut. Di sisi lain, pada mayoritas kampung, mereka tidak lagi menjunjung tinggi nilai-nilai sosial dan kultural yang sebenarnya sangat berpengaruh untuk melahirkan ide-ide. Namun, pada realitanya banyak menjadikan hal tersebut asing dan lebih individual. Selain mural, Pra Event tersebut juga mengajak anak-anak kecil kampung tersebut untuk melukis tampah.
Sebagai wujud kepedulian Art Edu Care untuk mendukung budaya membaca di Masyarakat, Pendonasian Buku juga menjadi salah satu project yang dicanangkan pada Pra Event ini. Pendonasian buku sendiri tidak lain sebagai sebuah project untuk mengajak masyarakat umum secara luas bersedia mendonasikan berbagai Buku untuk disumbangkan. Pendonasian buku tentunya akan menambah koleksi buku yang terdapat di Rumah Baca Teratai. Pada akhirnya ketika buku yang sudah terkumpul akan menjadi beragam yang akan menambah pengetahuan dan wawasan kepada pembaca.
Pada Pra Event tersebut, akan ada diskusi ‘Kreativitas Laju Kualitas’ yang akan diisi oleh Ketua Panitia Art Edu Care, salah satu Seniman Solo, juga Pengelola Rumah Baca Teratai itu sendiri. Pada dasarnya, kreativitas menjadi senjata utama manusia dalam berkarya untuk mendapatkan hasil akhir yang baik. Kreativitas manusia yang semakin tinggi juga berdampak pada sebuah karya yang dihasilkan. Kemauan untuk mengasah kreativitas secara berkelanjutan juga sangat berpengaruh dalam kualitas karya maupun proses. Oleh karena itu, kreativitas bukan lagi tercipta dari bakat manusia, melainkan sebuah ilmu yang juga bisa didapatkan secara mudah melalui ketekunan dalam mencari dan menemukan hal-hal baru.
Pra Event Art Edu Care #7 kali ini mencoba mengajak Rumah Baca Teratai untuk secara langsung mencoba mendekatkan arti dan makna Seni itu sendiri kepada Masyarakat. Tidak lain lagi sudah menjadi tujuan dari Art Edu Care itu sendiri untuk mengajak komunitas atau masyarakat untuk terlibat dalam proses kerja seni Partisipatory Art yang lebih fungsional pada tempatnya. Sementara itu, Masyarakat tidak lagi berfungsi semata sebagai audiens dari Project Seni, tetapi juga menjadi bagian terpenting dari keterlibatan sebuah Project. Selain itu, Pendidikan Seni Rupa tidak serta merta dinikmati sebagai sebuah objek, melainkan sebuah subyek yang juga dirasakan fungsinya oleh audiens secara nyata.


Seperti biasanya, kegiatan ARTEDUCARE selalu ramai dan selalu penuh dengan kejutan-kejutan baru didalamnya. Seperti biasanya pula ketika salah satu kegiatan Pameran yang mengusung Seni partisipatory ini selalu dihadiri dan dibuka oleh Rektor Universitas Sebelas Maret. Tidak berpindah tempat pula dari ARTEDUCARE 6 sebelumnya, ARTEDUCARE 7 juga masih diselenarakan di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta. Salah satu ruang berkesenian yang cukup mumpuni untuk menjadi tempat berekspresei bagi seniman di indonesia baik muda ataupun tua khususnya mereka yang ada di Kota Solo Sendiri.

Dalam beberapa Tahun Kedepan, tentunya ARTEDUCARE bukan lagi menjadi sebuah Kegiatan yang hanya memberikan isu berkesenian ataupun semata propaanda berkesenian, namun sejatinya ARTEDUCARE mampu menjadi subjek Masyarakat umum yang juga pantas menjadi panggung pendidikan berkesenirupaan secara nonformal. Karya-karya dengan kensep Partsipatory Art yang melibatkan masyarakat umum dalam proses penciptaannya selalu menjadi ciri khas bagi ARTEDUCARE itu sendiri. ARTEDUCARE 7 sendiri mengusung tema Art In Between. Galeri dibuka dari tanggal 18 Maret 2016 sampai 22 Maret 2016.

Pada Hari Kedua Art Edu Care #7, Galeri dibuka pada pukul 10.00 sampai pukul 22.00. Acara pada hari ini yaitu Fun Drawing bersama para Delegasi, Pemutaran film pendek bersama Jeihan Angga pada pukul 15.00, dan Diskusi Art Effects pada pukul 19.00 bersama Adam Wahida, Bonyong Muni Ardi, Suprapto Suryodhamo, dan Hendra Himawan.
Fun Drawing (Patch Stiker)

Pemutaran Film Pendek with Jeihan Angga

Diskusi Art Effect

Pada Hari Ketiga Art Edu Care #7 Art Effect, galeri dibuka pada pukul 10.00 sampai pukul 22.00. Acara selanjutnya yaitu Performance Art yang dilaksanakan pada pukul 19.00 di Taman Budaya Jawa Tengah Surakarta.
Performance Art dengan menggunakan media gelembung-gelembung.

Performance Art dengan menggunakan media botol air mineral bekas

Perfomance art dengan melibatkan para pengunjung dan panitia Art Edu Care#7

Aksi perfomance art dari perwakilan delegasi yang datang ke pameran seni rupa internasional Art Edu Care #7

Salah satu artis sedang menjelaskan maksut dari perfomance art-nya kepada para pengunjung

Dokumentasi Art Edu Chord (live music) dan Penutupan Pameran Art Edu Care #7

Berita
JALADARA : Art Edu Care #7 Pendidikan Seni Rupa FKIP UNS
Keseso: Mars Art Edu Care #7 (Art Edu Care #7 Theme Song)
Kepanitiaan Art Edu Care #7






















